Pages

Wednesday, July 29, 2009

CERITA TENTANG GANGGUAN JIWA

Namanya Bunga usianya baru 12 Tahun, pendidikannya masih kelas 6 SD tetapi harus di rawat di sebuah RS jiwa karena mengalami gangguan jiwa, bunga ini sebenarnya tidak memiliki tanda dan gejala gangguan jiwa sejak kecil, berdasarkan pengkajian diketemukan sebuah fakta unik bahwa dia mengalami Sibling Rivalry dengan saudara kandungnya, hampir setiap hari ayah, ibu maupun kakaknya selalu membandingkan Bunga dengan adik kandungnya yang secara kecerdasan intelektualnya memang lebih baik, dan secara penampilan fisik memang lebih menarik. " kaya adik itu lho sudah cantik, pinter lagi, Bunga kok gak bisa apa - apa sich."

Ungkapan dan komentar negatif yang dilontarkan setiap hari tersebut terakumulasi selama 5 tahun membuat Bunga menjadi minder, dia merasa bahwa dirinya tidak bisa apa - apa, dia merasa bahwa dia tidak mampu melakukan apa - apa, muncul sebuah keyakinan negatif dalam dirinya bahwa dia tidak memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, lama - kelamaan Bunga mulai menghindar dari interaksi dengan teman bermainnya, mulai menghindar dari teman sekolahnya dan memilih untuk menyediri, salah satu gurunya yang melihat perubahan perilaku anak didiknya menjadi tersentuh dan menyarankan untuk membawa Bunga ke Rumah Sakit Jiwa.

Setelah masuk rumah sakit, Bunga mendapatkan perawatan, dia diajarkan tentang kelebihan dan kekurangan diri, diajarkan cara - cara melakukan aktivitas harian, selama 3 bulan perawatan, Bunga hanya terdiam dan jarang berinisiatif, dia hanya akan melakukan aktivitas jika memang dia disuruh oleh dokter atau perawat, dalam fase perawatan, Bunga sangat sedikit melakukan interaksi dan komunikasi bahkan cenderung menghindar dari interaksi sosial.

Satu hal yang sangat istimewa adalah bunga menguasai sebuah permainan menata kelereng, permainan yang sangat simple tetapi juga rumit, dalam menyelesaikan beberapa permainan tersebut, Bunga mampu menyelesaikan permainan dengan hasil yang memuaskan, di RS tersebut Bunga diajarkan beberapa kemampuan untuk melakukan aktivitas harian, baik aktivitas perawatan diri maupun aktivitas - aktivitas yang lain, suatu ketika diadakan sebuah terapi yang disebut dengan terapi aktivitas kelompok, mereka diminta duduk melingkar dan kemudian melakukan beberapa kegiatan sesuai dengan petunjuk pemimpin kegiatan.

Cerita diatas adalah sebuah kisah nyata tentang seorang anak kecil yang baru menjelang remaja awal harus masuk RS Jiwa karena kesalahan pola asuh orang tua, setiap orang tua mengharapkan anak yang baik, yang penurut, yang cerdas, yang sopan dan berbagai tuntutan sikap yang lain, seharusnya apapun keadaan anak diterima sebagai sebuah paket utuh sehingga anak kecil atau siapapun tidak membawa bibit kesalahan perkembangan, jika kegagalan atau kesalahan dalam perkembangan ini terbawa sampai besar maka dia akan mengalami satu traumatik di masa kecilnya yang akan membawa perubahan dalam mekanisme kopingnya di masa dewasa, anak adalah titipan, maka jagalah titipan tersebut dengan baik karena kelak sang pemberi titipan akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dititipkanNYA kepada kita.

Sunday, July 26, 2009

ISU KEPERAWATAN JIWA TERBARU

MENJADIKAN KESEHATAN JIWA SEBAGAI PRIORITAS GLOBAL DENGAN CARA MENINGKATKAN PELAYANAN KESEHATAN JIWA MELALUI ADVOKASI DAN AKSI MASYARAKAT

Perkembangan teknologi digital membuat dunia terasa semakin sempit, informasi dari berbagai belahan dunia mampu di akses dalam waktu yang sangat cepat, perkembangan pengetahuan, perkembangan terapi menjadi sebuah media perubahan dalam proses penatalaksanaan gangguan jiwa, berdasarkan isu diatas maka advokasi dan aksi masyarakat menjadi salah satu langkah awal untuk menekan penderita gangguan jiwa di Indonesia pada khususnya dan Dunia pada umumnya.

Dua tindakan nyata diatas menjadi tanggung jawab kita semua, Tuntutan material, tuntutan hedonisme dan kesenangan duniawi mampu membuat beberapa orang mengalami goncangan dalam kehidupannya, ketika agama tidak lagi menjadi pegangan, ketika nafsu duniawi menjadi Tuhan maka akan banyak perilaku tidak wajar yang muncul, tekanan ekonomi, tekanan sosial, tekanan psikologis dan tekanan - tekanan yang lain mampu membuat ego defence mechanisme seseorang menjadi terganggu. Seseorang pada intinya ingin dianggap PENTING, perilaku agar dianggap atau terlihat penting ini yang terkadang merusak integritas pribadinya sendiri, contoh : "agar kelihatan kaya melakukan hutang dengan beban angsuran diluar kemampuan, akhirnya harus gerilya dengan Debt Collector, setiap Debt Collector datang harus bersembunyi atau bahkan melarikan diri agar hutangnya tidak ditagih, jika perlu pindah rumah kontrakan". Kejaran dari Debt Collector bisa membuat seseorang menjadi tertekan secara psikologis.

Kehidupan sebenarnya bermuara pada dua hal keinginan dan kebutuhan, jika orang berorientasi pada pemenuhan keinginan maka dia tidak akan mampu melawan keserakahan yang sudah menguasai hati dan kehidupannya, nafsu menjadi yang terbaik membuat orang menghalalkan segala cara untuk menang, sebuah kemenangan seorang PECUNDANG sama buruknya dengan kekalahan PECUNDANG yang sebenarnya, cara menang sebagai PECUNDANG ini adalah dengan cara sikat kanan, sikat kiri, injak bawah dan menjilat atasan menjadi sebuah pilihan pahit yang diambil oleh para hedonis ini. Jika saja mutiara kebajikan "Siapa menanam benih maka dia akan menuai, atau Setiap perbuatan baik sekecil apapun ada balasannya dan setiap perbuatan buruk sekecil apapun akan ada balasannya". Manusia harus mampu menekan keinginan dan memprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan, jika kita memiliki keinginan maka mempertahankan melakukan segala sesuatu dengan cara baik adalah sebuah keharusan, alam, manusia dan semua ciptaan Tuhan sudah diatur oleh sang pencipta dan manusia tidak perlu ikut membuat aturan yang sudah digariskan oleh Tuhan, ketika manusia melalaikan janji maka sifat manusia sebagai tempat salah dan lupa bisa menjadi faktor pemakluman terhadap situasi tersebut, tetapi Janji Tuhan bukanlah faktor yang dapat ditawar, jika kita berbuat baik maka pasti akan menuai kebaikan jika kita berbuat buruk akan menuai hal buruk pula.

Manusia bisa membuat sebuah hukum, sebuah aturan dalam bentuk Undang - Undang dan berbentuk peraturan, isi aturan dan Undang - Undang bisa memiliki dua sisi, mengikuti kepentingan penguasa atau memang Undang - Undang tersebut memang untuk membuat sebuah keteraturan, Ketika Raja Firaun berkuasa maka dia membuat sebuah Undang - Undang bahwa setiap warga yang memiliki anak laki - laki maka anak laki - lakinya tersebut harus dibunuh. Undang - undang ini tentu untuk kepentingan penguasa karena berdasarkan ramalan salah satu bayi laki - laki tersebut yang akan mengakhiri kisah kediktaktoran sang raja. Ketika akhirnya Tuhan memberikan sebuah pembalasan dengan sangat kejam dengan cara menghanyutkan Firaun dan semua pengikutnya ditengah lautan maka musnahlah kesombongan penguasa diktator tersebut.

Kisah - kisah teladan telah banyak yang diceritakan dalam Kitab Suci, jika manusia meresapi cerita - cerita tersebut kemudian memperkuat fondasi spiritualitasnya, melakukan komunikasi dengan Pencipta lewat Ibadah maka kehidupan akan menuju sebuah keteraturan, dunia diciptakan dalam bentuk aneka warna dan hitam putih sehingga muncul siang dan malam, gelap dan terang, mengembalikan manusia ke hakikat diri mereka yang sebenarnya akan membuat seseorang menemukan dirinya, mereka menerima semua kelebihan dan kekurangan dan secara sehat menerima setiap perbedaan sebagai sebuah paket utuh dari adanya persamaan, jika dunia berwarna putih semua maka akan monoton, bahkan asal mula kejahatan bermula dari rasa iri Iblis terhadap Adam sehingga Adam terbuang dari Surga, manusia pilihan yang diciptakan pertama kali sudah mampu disesatkan oleh Iblis maka akan berapa banyak keturunan Adam yang juga mampu disesatkan oleh Iblis dengan iming - iming kenikmatan dunia.

Marilah kita beraksi, membersihkan hati, membersihkan pikiran dari berbagai racun yang mampu menggelapkan hati, dari berbagai racun yang merusak pikiran, kelak jika memang kita mampu bertahan dengan pikiran baik dan hati yang baik maka kedepannya bukan tidak mungkin kita mampu menularkan virus sehat hati dan sehat pikiran ini ke banyak orang ketika banyak orang yang sehat hati dan sehat pikiran maka kita telah ikut melakukan aksi untuk membantu mencegah orang lain terkena penyakit pikiran atau gangguan jiwa, semakin banyak orang yang menyebarkan virus kebaikan ini maka bukan tidak mungkin generasi emas, generasi berlian, generasi mutiara akan terlahir yang cahayanya mampu menyilaukan mata dunia karena amal dan perbuatan mereka yang memang baik, orang baik tidak melihat usia, jenis kelamin maupun suku, orang baik hanya mengenal satu kata "SEMUA MANUSIA PASTI MATI", dan salah satu bekal untuk menghadapi kematian adalah "MENJADI ORANG YANG BERMANFAAT BAGI LINGKUNGANNYA". Semoga renungan ini menjadi sebuah pelajaran berharga.

Monday, July 6, 2009

FAKTOR SEHAT JIWA

Kesehatan jiwa sering berpijak pada beberapa komponen, beberapa komponen tersebut adalah :
  1. Support system : dukungan dari orang lain atau keluarga membantu seseorang bertahan terhadap tekanan kehidupan, stresor yang menyerang seseorang akan melumpuhkan ketahanan psikologisnya, dengan dukungan dari sahabat, orang - orang terdekat, suami, istri, orang tua maka seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi stressor.
  2. Mekanisme Koping : bagaimana cara seseorang berespon terhadap stressor menjadi satu ciri khas bagi setiap individu, jika responnya adaptif maka hasilnya tentu perlaku positif, jika responnya negatif hasilnya adalah perilaku negatif.
  3. Harga Diri : jika dia merasa lebih baik dari orang lain maka akan menjadi sombong, jika dia merasa orang lain lebih baik dari dia maka dia akan mengalami Harga Diri Rendah.
  4. Ideal Diri : Bagaimana cara seseorang melihat dirinya, bagaimana dia seharusnya : " saya hanya akan menikah dengan seorang wanita anak pengusaha" comment tersebut adalah ideal diri tinggi, " saya hanya lulusan SD, menjadi buruh saja saya sudah maksimal" comment ini adalah ideal diri rendah.
  5. Gambaran Diri : apakah seseorang menerima dirinya beserta semua kelebihan dan kekurangan, meski cantik dia menerima kecantikannya tersebut satu paket dengan keburukan lain yang menyertai kecantikan tersebut.
  6. Tumbuh Kembang : Jika seseorang tidak pernah mengalami trauma maka dewasa dia tidak akan mengalami memori masa lalu yang kelam atau yang buruk.
  7. Pola Asuh : kesalahan mengasuh orang tua memicu perubahan dalam psikologis anak.
  8. Genetika : Schizofrenia bisa secara genetis menurun ke anak, bahkan pada saudara kembar peluang nya 50 %.
  9. Lingkungan : Lingkungan yang buruk menjadi salah satu faktor pendukung munculnya gangguan jiwa.
  10. Penyalahgunaan Zat : penyalahgunaan zat memicu depresi susunan saraf pusat, perubahan pada neurotransmitter sehingga terjadi perubahan pada fungsi neurologis yang berfungsi mengatur emosi.
  11. Perawatan Diri : jika seseorang tidak pernah mendapatkan perawatan, ex : lansia maka dia akan mengalami suatu perasaan tidak berguna jika perasaan ini berlangsung lama bisa memicu gangguan jiwa.
  12. Kesehatan Fisik : gangguan pada sistem saraf mampu merubah fungsi neurologis, dampak jangka panjangnya jika yang terkena adalah pusat pengaturan emosi akan memicu gangguan jiwa.
Seharusnya ada banyak faktor yang memicu gangguan jiwa, jika semua faktor bisa direduksi dan di minimalisir maka ke depan jumlah penderita gangguan jiwa dapat ditekan sekecil mungkin.