Pages

Friday, October 17, 2014

Mengorbankan ego

Setiap membaca sebuah berita si A terpaksa harus mengorbankan egonya, si B selalu memperturutkan ego nya. Si C entah apalagi yang dilakukan, ego bukan kambing yang bisa dikorbankan, ego bukan benda yang bisa diletakkan dimana saja, ego adalah perasaan, ego adalah sarana manusia bertahan. Tanpa ego manusia hanya bisa menuruti id atau super ego, tanpa ego orang hanya makan untuk kenyang, berpakaian dari karung goni, tidur didipan kayu, kemana-mana jalan kaki dan tetap bahagia. Ego adalah melihat diri dan membuat nilai diri agar sama atau lebih tinggi dari orang lain.

Tanpa ego tidak ada perang, adu mulut, konflik, cekcok dll. Ego adalah penyeimbang antara nafsu binatang dan kebajikan malaikat/angel. Ego tidak bisa dikorbankan, dia hanya bisa diproporsi agar menyeimbangkan id dan superego, tidak akan lahir sengkuni, bisma, kurawa dan pandawa kalo tidak ada ego, tanpa ego tidak ada sliding tackle, menggunting dalam lipatan, menusuk dari belakang, musuh dalam selimut, srigala berbulu domba dll. Ego adalah timbangan yang akan mengukur sisi mana yang harus ditambah, sisi mana yang harus dikurangi.

Ego tidak perlu dikorbankan, ego hanya perlu distabilkan, dikendalikan, dikelola, dikontrol. Ego bukan binatang buas yang tak bertuan, ego adalah sumber persaingan, persaingan sumber kreativitas. Tanpa ego manusia mirip robot, tidak pernah berbuat jahat tidak pula berbuat baik, datar, tumpul, tanpa ekspresi, tidak ada stress dll.

Ego adalah alat yang membuat kita masih bertahan sampai hari ini, tanpa ego hidup seperti melihat tivi hitam putih, boring dan membosankan.

Pada 15 Okt 2014 19.49, "Imron Rosyidi" <tentaralangit46@gmail.com> menulis:

Beli mobil baru biar terlihat kaya, bangun rumah megah biar di wah sama orang, jalan - jalan ke luar negeri biar dikira sukses. Trus upaya untuk menjamin semua itu dengan bukti dokumen foto, sambil nyetir, sambil foto dibawah patung singa di singapura atau foto didepan menara kembar petronas. Aktualisasi diri biar dikira kaya, gaya hidup orang kaya atau sebenarnya pura-pura kaya?

Aktualisasi diri adalah self acceptance, menerima diri kemudian menampilkan diri utuh tanpa topeng, senyum karena memang bahagia dan cemberut karena bete, dongkol, emosi dll. Aktualisasi diri adalah "inilah aku", tanpa polesan dan tanpa settingan. Nanti kalo gak gitu aku dikira miskin, disebut miskin dsb. Accept the reality, aktualisasi diri adalah menerima realita, menerima fakta kehidupan tanpa harus beralibi ini dan itu.

Bob sadino pede aja pakai celana pendek, banyak orang sukses beneran tidak perduli penilaian orang, mereka perduli fakta dan realita, mengkalkulasi aset, menurunkan liabilitas, memutar uang, memaksimalkan potensi pendapatan, menikmati dan menjalani hidup dengan enjoy, terencana ke masa depan but still happiness.

Jarang mengeluh, just do it, do it better, better service dsb. Orang sukses beneran tidak perlu cerita punya uang berapa, mobilnya apa dll. Orang sukses beneran sudah kenyang pujian dan caci maki, mereka hanya fokus pada growth asset, growth mindset, homeostasis life dsb. Orang sukses beneran gak perlu pamer.

Jadi aktualisasikan diri anda tanpa perlu lebay dan kebanyakan akting, natural saja, mengalir seperti air dan berhembus seperti angin, aktualisasi is mindset bukan attitude, attitude adalah bentuk fisik dari mindset, asal mindset benar, right word, right behaviour, right attitude your future is bright.

Gampang sekali bicara, be good and you will success, jadilah baik maka anda akan sukses, jadilah natural person yang tidak terdikte eksternal.

Pada 10 Okt 2014 23.33, "Imron Rosyidi" <tentaralangit46@gmail.com> menulis:

Dulu ketika pertama kali blog ini dibuat, masih minim pesaing, minim kompetitor, sering mejeng di page one search engine google, punya banyak backlink, banyak blogger lain blogwalking dan meninggalkan tulisan dikolom komentar. Sekarang tulisan bertema gangguan jiwa sudah menjamur bak cendawan dimusim hujan. Blog ini bukan blog otoritas gangguan jiwa karena penulis bukan seorang dokter spesialis jiwa, bukan perawat spesialis jiwa, bukan psikolog klinik. Penulis hanya seorang Ners Generalis dengan otoritas justru di manajemen keperawatan. Itupun masih minim pengalaman dan jam terbang.

Blog ini dibuat untuk mematangkan kemampuan penulis yang masih sering typo, masih lemah dalam analisis, masih lemah dalam literasi. Sekali lagi penulis tekankan, blog ini bukan blog otoritas. Kalopun banyak artikel yang berkaitan dan berkorelasi dengan gangguan jiwa semua itu hasil pembelajaran yang penulis alami untuk menjadi ners generalis. Penulis terus berupaya mengasah kompetensi dan mengasah analisis agar mampu menghasilkan tulisan yang makin berkualitas.

Albert Einstein pernah menyatakan "jika tidak mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana berarti kita belum memahami". Artikel yang ada diblog ini ditujukan untung orang - orang yang punya interes pada penderita gangguan jiwa. Membantu berbagi ilmu secara gratis, membantu mahasiswa menyusun tugas dll. Blog ini akan terus terupdate agar konten yang tersaji bermutu.

Pada 9 Okt 2014 01.24, "Imron Rosyidi" <tentaralangit46@gmail.com> menulis:

Anda seharusnya marah jika disebut gila, tapi cukup menahan senyum jika disebut stress. Orang normal mengalami stres, orang normal akan mendapatkan tekanan psikologis yang bertubi-tubi. Orang normal punya tembok pertahanan bernama coping mechanism, plus ego defence mechanism. Mirip sepakbola, kemampuan menahan serangan tergantung dari rapat, kokoh dan kompaknya lini pertahanan. Jika pertahanan kokoh dan kuat maka bukan tidak mungkin semua gempuran stressor akan mentah.

Coping mechanism bisa dilatih, bisa juga matang karena keterpaksaan, coping mechanism berhasil ketika kita berdamai dengan sisi internal kemudian berdamai dengan sisi external, semakin kuat anda self acceptance, semakin baik konsep diri, semakin baik daya tilik diri maka semakin kokoh lini belakang yang dimiliki. Kokohnya pertahanan membuat peluang menjadi gila mengecil, depresi dan frustasi menurun, tereduksi bahkan tereliminasi, coping mechanism yang tepat menguntungkan semua pihak.

Lalu bagaimana cara memperkuat koping, terima kesalahan, terima kegagalan, jangan membenarkan diri, evaluasi diri, lalu jujur pada diri. Runtuhkan ego dan bangun kearifan diri. Indikator kekuatan koping adalah kebijaksanaan, semakin anda matang mengelola kekecewaan, kegagalan, rasa bersalah maka anda sedang membangun tembok pertahanan yang kokoh.

Pada 2 Okt 2014 01.08, "Imron Rosyidi" <tentaralangit46@gmail.com> menulis:

Salah satu ciri gejala pada pasien schizofrenia disebut dengan halusinasi, ketidakmampuan untuk membedakan realita dan non reality. Tetapi akhir - akhir ini mungkin kita disuguhi drama, opera atau entah apa namanya. Sebuah tontonan tentang dua kubu yang saling merasa benar, merasa sebagai pihak pandawa. Hal ini membuat orang dengan status mental paling bagus sekalipun kesulitan membaca realita yang ada, fakta yang sebenarnya.

Paradigma, mindset yang tertanam adalah benar vs salah, kurawa vs pandawa, superhero vs penjahat. Realitanya bisa saja salah vs salah atau benar vs benar. Bahkan superhero vs superhero pun wajar - wajar saja. Bahwa yang berkonflik sama - sama benar pun bisa terjadi. Mindset hitam putih ini tertanam dibenak kita dan terendap dialam bawah sadar.

Teori manajemen konflik menjelaskan bahwa konflik ada di 3 area, keduanya benar, keduanya salah, atau salah satu benar/salah. Jika kita ingin melihat realita dengan baik, benar dan tepat maka sudah seharusnya kita memberi 3 opsi pada logika. Logika tidak harus terbiaskan oleh realita - realita semu. Kita tidak mampu membaca mana pandawa dan mana kurawa. Asas obyektif tetap mengedepankan segala peluang yang bisa muncul.

Jika ingin melihat realita dengan baik hanya mata batin, naluri, insting, indra ke enam dan kejernihan hati yang bisa melihatnya. Otak cenderung mudah di denial of service oleh banjir informasi, kalo otak hang maka kendali hati yang memimpin tubuh. Halusinasi2 pada schizofrenia bisa diobati tapi halusinasi pada orang normal dengan olah rasa dan self manajemen.

Semoga anda makin jernih melihat fakta dan realita, bukan lagi halusinasi yang terjadi karena hang otak akibat overload informasi.

Pada 27 Agt 2014 22.52, "Imron Rosyidi" <tentaralangit46@gmail.com> menulis:

Ada yang berseloroh bahwa waras itu ketika merasa gila karena orang gila tidak pernah merasa bahwa dirinya gila, Albert einstein mengatakan bahwa "gila adalah menginginkan hal berbeda tapi tetap melakukan hal yang sama". Jika mengacu ke kalimat Albert Einstein berapa banyak orang yang langsung terjustifikasi gila. Berharap sukses tapi tidak memulai bisnis atau belajar investasi. Bahkan membuat statemen bahwa "sukses itu adalah bukan pencapaian". Sukses itu tetaplah sebuah pencapaian.

Sukses itu sebuah pencapaian yang meskipun kecil tapi berdampak psikologis besar. Banyak harta mungkin impian besar banyak orang tapi ada juga yang bermimpi punya keturunan. Bahkan rela mengeluarkan harta banyak agar punya keturunan. Lalu mana yang lebih penting? Hanya anda yang mampu menafsirkan kesuksesan bukan orang lain. Hanya anda yang mampu mengejawantahkan kesuksesan itu dengan fakta dan realita masing - masing.

Waras itu bukan situasi, waras adalah efek dari kematangan psikologis. Jika menjomblo kelamaan pasti ada yang salah dengan psikologis. Traumatis atau justru terlalu perfeksionis, jadi waras bisa termanifestasi dalam berbagai aspek kewajaran, aspek general dan aspek - aspek lain yang berfundamen kuat. Waras adalah posisi atau keadaan homeostasis psikologis. Assertive dengan hitam dan putihnya dunia. Assertive dengan manis dan pahitnya kehidupan.

Waras adalah anda tidak marah disebut gila karena anda sadar bahwa ada psikometri yang dapat digunakan untuk mengukur kadar kewarasan, jika anda marah disebut gila jangan- jangan "gila beneran". Waras artinya anda sadar diri, daya tilik diri positiv, harga diri medium tidak tinggi tidak pula rendah, punya shock absorber yang tidak takut kalah, tidak takut gagal, tidak takut jatuh, berani kecewa dll.

Coba cek kewarasan anda, maka anda akan menemukan banyak orang gila seperti definisi albert einstein.