Kamis, 10 Desember 2009

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK: ORIENTASI REALITA

Terapi Aktivitas Kelompok Oientasi Realita (TAK): orientasi realita adalah upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien, yaitu diri sendiri, orang lain, lingkungan/ tempat, dan waktu.

Klien dengan gangguan jiwa psikotik, mengalami penurunan daya nilai realitas (reality testing ability). Klien tidak lagi mengenali tempat, waktu, dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat mengakibatkan klien merasa asing dan menjadi pencetus terjadinya ansietas pada klien. Untuk menanggulangi kendala ini, maka perlu ada aktivitas yang memberi stimulus secara konsisten kepada klien tentang realitas di sekitarnya. Stimulus tersebut meliputi stimulus tentang realitas lingkungan, yaitu diri sendiri, orang lain, waktu, dan tempat.

TUJUAN
Tujuan umum yaitu klien mampu mengenali orang, tempat, dan waktu sesuai dengan kenyataan, sedangkan tujuan khususnya adalah:

   1. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada
   2. Klien mengenal waktu dengan tepat.
   3. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orangorang di sekitarnya dengan tepat.

AKTIVITAS DAN INDIKASI
Aktivitas yang dilakukan tiga sesi berupa aktivitas pengenalan orang, tempat, dan waktu. Klien yang mempunyai indikasi disorientasi realitas adalah klien halusinasi, dimensia, kebingungan, tidak kenal dirinya, salah mngenal orang lain, tempat, dan waktu.

TAK ORIENTASI (disorientasi) REALITAS
Sesi 1.: Pengenalan Orang
Tujuan
   1. Klien mampu mengenal nama-nama perawat.
   2. Klien mampu mengenal nama-nama klien lain.
Setting
   1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran.
   2. Ruangan nyaman dan tenang.
Alat
   1. Papan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK
   2. Spidol
   3. Bola tennis
   4. Tape rcorder
   5. kaset “dangdut”
Metode
   1. Dinamika kelompok
   2. Diskusi dan Tanya jawab
 
Langkah Kegiatan

   1. Persiapan
  • memilih klien sesuai dengan indikasi
  • membuat kontrak dengan klien
  • mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

   2. Orientasi

   1. salam terapeutik : Salam dari terapis kepada klien

   2. evaluasi/ validasi : menanyakan perasan klien saat ini.

   3. Kontrak
         1. terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal orang
         2. terapis menjelaskan atuaran main berikut:
  • Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.
  • Lama kegiatan 45 menit
  • Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

   3. Tahap Kerja
  • terapis membagikan papan nama untuk masing-masing klien
  • terapis meminta masing-masing klien menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal
  • terapis meminta masing-masing klien menuliskan nama panggilan di depan papan nma yang dibagikan
  • terapis meminta masing-masing klien memperkenalkan diri secara berurutan, searah jarum jam dimulai dari terapis, meliputi menyebutkan: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi
  • terapis menjelaskan langkah berikutnya: tape recorder akan dinyalakan, saat musik terdengar bola tenis dipindahkan dari satu kien ke klien lain. Saat musik dihentikan, klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi dari klien yang lain (minimal nama panggilan).
  • Terapis memutar tape recorder dan menghentikan . saat musik berhenti, klien klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi klien yang lain.
  • Ulangi langkah f sampai semua klien mendapatkan giliran.
  • Terapis memberikan pujian untuk setiap keberhasilan klien dengan mengajak klien lain bertepuk tangan.
   4. Tahap terminasi
         1. Evaluasi : 
  • terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK,terapis memberikan pujian atas  keberhasilan kelompok.       
  • tindak lanjut : terapis menganjurkan klien menyapa orang lain sesuai dengan nama panggilan.
  • kontrak yang akan datang

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realitas orang, kemampuan klien yang diharapkan adalah dapat menyebutkan nama, panggilan, asal, dan hobi klien lain.

Selasa, 08 Desember 2009

PERILAKU KEKERASAN DI SINETRON

Jika kita melihat beberapa tayangan Sinetron ditelevisi maka Perilaku Kekerasan menjadi sebuah harga mati yang selalu ada dalam setiap episode sinetron, selalu ada tokoh protagonis dan tokoh antagonis, kedua tokoh ini selalu bermusuhan, tokoh protagonis akan menjadi obyek penderita, yang selalu dicaci maki, selalu dimarahi, selalu dilecehkan, selalu dihina, selalu mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, dan pelaku perbuatan tidak pantas tersebut adalah tokoh protagonis. Penciptaan dua tokoh yang saling bertentangan ini membawa sebuah daya tarik tersendiri bagi pemirsanya, padahal jam tayang sinetron tersebut bisa saja disaat anak - anak belum tidur.

Konsekuensi dari paparan sinetron yang memiliki muatan kekerasan verbal tersebut, menjadi sebuah role model bagi anak - anak untuk berlatih menghujat, mengkritik, memprotes, menghina, melecehkan atau bahkan memperlakukan temannya dengan tidak pantas, ketika sempat digegerkan kasus Genk Nero, dihebohkan kasus bentrok antar mahasiswa sebuah perguruan tinggi bahkan kasus bentrok satpol PP dengan pedagang, betapa muatan perilaku kekerasan tersebut telah tercampur adukkan dengan berita dan informasi sehingga penonton seolah - olah tidak menyadari efek jangka panjang dari tayangan ini.

Komisi pengawas penyiaran seolah tidak menyadari bentuk Kekerasan verbal tersebut dan membiarkan acara caci maki, ejek - mengejek, acara saling serang dan adu argumen tersebut berlangsung dilayar kaca dengan bebasnya. Bahkan acara - acara tersebut berada di jam - jam yang masih sore, jam dimana anak - anak belum tidur. Perilaku kekerasan seolah menjadi hal yang biasa, tayangan berbau kekerasan dianggap bukan sebagai sebuah masalah, tayangan kekerasan telah dianggap sebagai bagian dari komersialisasi media televisi.

Akankah kita berdiam diri melihat stimulus - stimulus perilaku kekerasan tersebut berlalu lalang dilayar kaca kita, akankah kita memberikan sebuah teguran halus agar jam tayang sinetron dikendalikan, sehingga sinetron yang bermuatan kekerasan verbal akan terjauh dari anak - anak, jejali anak - anak dengan hiburan - hiburan lain yang jauh dari kekerasan verbal, jika kejadian ini dibiarkan dalam jangka panjang maka kita akan melihat sebuah generasi BARBAR yang sangat besar dinegeri ini. Semoga saja sejak sekarang hal tersebut dapat dicegah dan diantisipasi. Andai saja banyak orang yang tahu faktor - faktor apakah yang membuat seseorang menderita gangguan jiwa