Pages

Monday, July 11, 2011

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK: ORIENTASI REALITA

Terapi Aktivitas Kelompok Oientasi Realita (TAK): orientasi realita adalah upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien, yaitu diri sendiri, orang lain, lingkungan/ tempat, dan waktu. Klien dengan gangguan jiwa psikotik, mengalami penurunan daya nilai realitas (reality testing ability). Klien tidak lagi mengenali tempat, waktu, dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat mengakibatkan klien merasa asing dan menjadi pencetus terjadinya ansietas pada klien. Untuk menanggulangi kendala ini, maka perlu ada aktivitaas yang memberi stimulus secara konsisten kepada klien tentang realitas di sekitarnya. Stimulus tersebut meliputi stimulus tentang realitas lingkungan, yaitu diri sendiri, orang lain, waktu, dan tempat.

TUJUAN
Tujuan umum yaitu klien mampu mengenali orang, tempat, dan waktu sesuai dengan kenyataan, sedangkan tujuan khususnya adalah:
1. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada
2. Klien mengenal waktu dengan tepat.
3. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orangorang di sekitarnya dengan tepat.

AKTIVITAS DAN INDIKASI
Aktivitas yang dilakukan tiga sesi berupa aktivitas pengenalan orang,tempat, dan waktu. Klien yang mempunyai indikasi disorientasi realitas adalah klien halusinasi, dimensia, kebingungan, tidak kenal dirinya, salah mngenal orang lain, tempat, dan waktu.

TAK ORIENTASI (disorientasi) REALITAS
Sesi 1.: Pengenalan Orang
Tujuan
1. Klien mampu mengenal nama-nama perawat.
2. Klien mampu mengenal nama-nama klien lain.
Setting
1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.

Alat
1. pan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK
2. Spidol
3. Bola tennis
4. Tape rcorder
5. kaset "dangdut"

Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan Tanya jawab

Langkah Kegiatan
1. Persiapan
  •  memilih klien sesuai dengan indikasi
  • membuat kontrak dengan klien
  • mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi
1. salam terapeutik
    Salam dari terapis kepada klien
2. evaluasi/ validasi
    menanyakan perasan klien saat ini.
3. Kontrak
1. terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal orang
2. terapis menjelaskan atuaran main berikut:
-jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin
kepada terapis.
-Lama kegiatan 45 menit
-Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap Kerja
1. terapis membagikan papan nama untuk masing-masing klien
2. terapis meminta masing-masing klien menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal
3. terapis meminta masing-masing klien menuliskan nama panggilan di depan papan nma yang dibagikan
4. terapis meminta masing-masing klien memperkenalkan diri secara berurutan, searah jarum jam dimulai dari terapis, meliputi menyebutkan: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi
5. terapis menjelaskan langkah berikutnya: tape recorder akan dinyalakan, saat musik terdengar bola tenis dipindahkan dari satu kien ke klien lain. Saat musik dihentikan, klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi dari klien yang lain (minimal nama panggilan).
6. Terapis memutar tape recorder dan menghentikan . saat musik berhenti, klien klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi klien yang lain.
7. Ulangi langkah f sampai semua klien mendapatkan giliran.
8. Terapis memberikan pujian untuk setiap keberhasilan klien dengan mengajak klien lain bertepuk tangan.
4. Tahap terminasi
1. Evaluasi
1. terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
2. tindak lanjut terapis menganjurkan klien menyapa orang lain sesuai dengan nama panggilan.
3. kontrak yang akan datang
Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realitas orang, kemampuan klien yang diharapkan adalah dapat menyebutkan nama, panggilan, asal, dan hobi klien lain.


tertarik dengan beberapa video lagu, film atau apapun diyoutube, tapi tidak tahu cara mendownloadnya, berikut ini caranya :




















Monday, May 30, 2011

LP BUNUH DIRI

 MASALAH UTAMA
Gangguan alam perasaan: depresi.


PROSES TERJADINYA MASALAH

Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.

Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagai­nya.

Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedah­an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.

Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
                  
 MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1.      Gangguan alam perasaan: depresi

a.       Data subyektif: Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.

b.      Data obyektif: Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan lang­kah yang diseret.Kadang‑kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering me­nangis.Proses berpikir terlambat, seolah‑olah pikirannya kosong, konsentrasi tergang­gu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang‑kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu.



2.      Koping maladaptif

a.       DS      : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.

b.      DO     : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.



IV.  DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan alam perasaan: depresi


V.     RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

a.       Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.

b.      Tujuan khusus

1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan:

1.1.    Perkenalkan diri dengan klien

1.2.    Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati

1.3.    Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.

1.4.    Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya

1.5.    Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti

1.6.    Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.



2.      Klien dapat menggunakan koping adaptif

2.1.      Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.

2.2.      Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan

2.3.      Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan

2.4.      Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.

2.5.      Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima

2.6.      Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih

2.7.       Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.



3.      Klien terlindung dari perilaku mencederai diri

Tindakan:

3.1. Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.

3.2.      Jauhkan dan simpan alat‑alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.

3.3.      Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.

3.4.      Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.



4.   Klien dapat meningkatkan harga diri

Tindakan:

4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.

4.2.   Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal individu.

4.3. Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).



5.   Klien dapat menggunakan dukungan sosial

Tindakan:

5.1.    Kaji dan manfaatkan sumber‑sumber ekstemal individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).

5.2.    Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).

5.3.    Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling  pemuka agama).



6.       Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

Tindakan:

          6.1.  Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).

6.2.   Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).

6.3.   Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.

6.4.   Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.



Lihat video ini untuk membayangkan bagaimana seseorang bisa memiliki keinginan bununh diri dan apa yang dilakukan oleh orang terdekat.

Sunday, May 22, 2011

LP PERILAKU BUNUH DIRI

I.MASALAH UTAMA

Perilaku bunuh diri.

II.    PROSES TERJADINYA MASALAH

Bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja untuk mengakhiri kehidupan. Individu secara sadar berkeinginan untuk mati sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Perilaku bunuh diri disebabkan karena individu mempunyai koping tidak adaptif akibat dari gangguan konsep diri: harga diri rendah.

Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh diri adalah mencederai diri dengan tujuan mengakhiri hidup.

Perilaku yang muncul meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri.


              
MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1.      Masalah keperawatan:

  • Resiko mencederai diri
  • Perilaku bunuh diri
  • Koping maladaptif
2.      Data yang perlu dikaji:

a.      Data subjektif            :

Menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja, tak ada gunanya hidup.

b.      Data objektif:

Nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls, ada isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri, pernah mencoba bunuh diri.



IV.  DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Resiko mencederai diri .



V.     RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
a.       Tujuan umum: klien tidak melakukan usaha bunuh diri

b.      Tujuan khusus


1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:

1.1.  Perkenalkan diri dengan klien

1.2.  Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.

1.3.  Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.

1.4.  Bersifat hangat dan bersahabat.

1.5.  Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.



2.      Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri

2.1. Jauhkan klien dari benda‑benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain‑lain).

2.2.  Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.

2.3.  Awasi klien secara ketat setiap saat.



3.   Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan:

3.1.    Dengarkan keluhan yang dirasakan.

3.2.  Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.

3.3    Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya.

3.4.   Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti  penderitaan, kematian,  dan lain‑lain.

3.5.   Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.



4.   Klien dapat meningkatkan harga diri

Tindakan:

4.1.   Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.

4.2.   Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal individu.

4.3. Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).



5.   Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan:

5.1.  Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman‑pengalaman yang menyenangkan  setiap hari (misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll.).

5.2.    Bantu untuk mengenali hal‑hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.

5.3.    Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif.



6.   Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:

6.1.    Kaji dan manfaatkan sumber‑sumber ekstemal individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).

6.2.    Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).

6.3.    Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling  pemuka agama).


 7.       Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:

7.1.  Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).

7.2.   Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).

7.3.   Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.

7.4.   Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.


ini contoh kalo si wanita tidak tahan mental, mengalami kejadian ini bisa bunuh diri.










Thursday, April 14, 2011

Jenis – Jenis NAPZA

  1. Heroin : Serbuk putih seperti tepung yang bersifat opioid atau menekan nyeri dan juga depresan SSP
  2. Kokain : Di olah dari pohon Coca yang punya sifat halusinogenik.
  3. Putau : golongan heroin, berbentuk bubuk. 
  4. Ganja : berisi zat kimia delta-9-tetra hidrokanbinol, berasal dari daun Cannabis yang dikeringkan, Konsumsi dengan cara dihisap seperti rokok tetapi menggunakan hidung.
  5. Shabu-shabu: kristal yang berisi methamphetamine, dikonsumsi dengan menggunakan alat khusus yang disebut Bong kemudian dibakar.
  6. Ekstasi: methylendioxy methamphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul, mampu meningkatkan ketahanan seseorang (disalahgunakan untuk aktivitas seksual dan aktivitas hiburan dimalam hari).
  7. Diazepam,Nipam, Megadon : obat yang jika dikonsumsi secara berlebih menimbulkan efek halusinogenik
  8. Alkohol : minuman yang berisi produk fermentasi menghasilkan etanol, dengan kadar diatas 40 % mampu menyebabkan depresi susunan saraf pusat, dalam kadar tinggi bisa memicu Sirosis hepatic, hepatitis alkoholik maupun gangguan system persarafan.

Ciri-ciri ketergantungan NAPZA:
  • Keinginan yang tak tertahankan untuk mengkonsumsi salah satu atau lebih zat yang tergolong NAPZA.
  • Kecenderungan untuk menambah dosis sejalan dengan batas toleransi tubuh yang meningkat.
  • Ketergantungan psikis, yaitu apabila penggunaan NAPZA dihentikan akan menimbulkan kecemasan, depresi dan gejala psikis lain.
  • Ketergantungan fisik, yaitu apabila pemakaian dihentikan akan menimbulkan gejala fisik yang disebut gejala putus zat (withdrawal syndrome). Withdrawal Syndrome terlihat dari beberapa aktivitas fisik seperti orang yang mengalami sakaratul maut, meronta, berteriak maupun melakukan aktivitas lain yang menunjukkan bentuk bahwa dia membutuhkan sebuah zat psikotropika.

Akibat Penyalahgunaan NAPZA
3 aspek akibat langsung penyalahgunaan NAPZA .
  1. Secara fisik: penggunaan NAPZA akan mengubah metabolisme tubuh seseorang. Hal ini terlihat dari peningkatan dosis yang semakin lama semakin besar dan gejala putus obat. Keduanya menyebabkan seseorang untuk berusaha terus-menerus mengkonsumsi NAPZA.
  2. Secara psikis: berkaitan dengan berubahnya beberapa fungsi mental, seperti rasa bersalah, malu dan perasaan nyaman yang timbul dari mengkonsumsi NAPZA. Cara yang kemudian ditempuh untuk beradaptasi dengan perubahan fungsi mental itu adalah dengan mengkonsumsi lagi NAPZA.
  3. Secara sosial: dampak sosial yang memperkuat pemakaian NAPZA. Proses ini biasanya diawali dengan perpecahan di dalam kelompok sosial terdekat seperti keluarga, sehingga muncul konflik dengan orang tua, teman-teman, pihak sekolah atau pekerjaan. Perasaan dikucilkan pihak-pihak ini kemudian menyebabkan si penyalahguna bergabung dengan kelompok orang-orang serupa, yaitu para penyalahguna NAPZA juga

Ciri-ciri Pengguna NAPZA
Fisik
  • Berat badan turun drastis.
  • Mata cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitaman.
  • Buang air besar dan air kecil kurang lancar.
  • Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.
  •  Tanda berbintik merah seperti bekas gigitan nyamuk dan ada bekas luka sayatan.
  •  Terdapat perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan.
  • Sering batuk-pilek berkepanjangan.
  • Mengeluarkan air mata yang berlebihan.
  • Mengeluarkan keringat yang berlebihan.
  • Kepala sering nyeri, persendian ngilu.
Emosi
  • Sangat sensitif dan cepat bosan.
  •  Jika ditegur atau dimarahi malah membangkang.
  • Mudah curiga dan cemas
  • Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul atau berbicara kasar kepada orang  disekitarnya, termasuk kepada anggota keluarganya. Ada juga yang berusaha menyakiti diri sendiri..
Perilaku
  • Malas dan sering melupakan tanggung jawab/tugas rutinnya.
  • Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.
  • Di rumah waktunya dihabiskan untuk menyendiri di kamar, toilet, gudang, kamar mandi, ruang-ruang yang gelap.
  • Nafsu makan tidak menentu.
  • Takut air, jarang mandi.
  • Sering menguap.
  • Sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba bersikap manis jika ada maunya, misalnya untuk membeli obat.
  • Sering bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam.
  • Selalu kehabisan uang, barang-barang pribadinya pun hilang dijual.
  • Suka berbohong dan gampang ingkar janji.
  • Sering mencuri baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun pekerjaan.

Ciri-ciri orang yang kecanduan NAPZA:
  • Air mata berlebihan
  • Banyaknya lendir dari hidung
  • Pupil mata membesar
  • Diare
  • Bulu kuduk berdiri
  • Sukar tidur
  • Menguap
  • Jantung berdebar-debar
  • Ngilu pada sendi

sudah dikasih larangan masih nekad itu sama dengan pengguna napza, 

Sunday, April 3, 2011

Konsep Dasar Skizofrenia & Waham


Pengertian
     Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik, pada orang yang mengalaminya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk (Kaplan dan Sadock, 1997).

Gejalanya
     Primer yang meliputi perubahan proses pikir, gangguan emosi, kemauan, dan otisme. Sedangkan gejala sekunder meliputi waham, halusinasi, gejala katatonik.

     Sekunder merupakan manifestasi untuk menyesuaikan diri terhadap gangguan primer. Skizofrenia dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, tak terinci, residual (Maslim, 2000). Dari beberapa jenis skizofrenia diatas, terdapat skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi, dan tidak ada perilaku pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran melayang (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 1998). Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah.

     Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998) dan Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah. Mayer-Gross dalam Maramis (1998) membagi waham dalam 2 kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis, tanpa penyebab dari luar. Sedangkan waham sekunder biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah waham kebesaran

     Waham kebesaran adalah waham peningkatan kemampuan, kekuatan, pengetahuan, identitas, atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal (Kaplan dan Sadock, 1997). Pendapat ini juga didukung oleh Kusuma (1997) yang menyatakan bahwa derajat waham kebesaran dapat terentang pembesar- besaran yang ringan sampai karakteristik sesungguhnya dari waham kebesaran psikotik. Isi waham umpamanya pasien telah melakukan penemuan yang penting atau memiliki bakat yang tidak diketahui atau kesehatan yang sangat baik.

Etiologi
a.    Predeposisi
1)    Biologi
       Skizofrenia paranoid disebabkan kelainan susunan saraf pusat, yaitu pada diensefalon/ oleh perubahan- perubahan post mortem/ merupakan artefak pada waktu membuat sediaan. Gangguan endokrin juga berpengaruh, pada teori ini dihubungkan dengan timbulnya skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimaterium. Begitu juga dengan gangguan metabolisme, hal ini dikarenakan pada orang yang mengalami skizofrenia tampak pucat dan tidak sehat, ujung ekstremitas sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Teori ini didukung oleh Adolf Meyer yang menyatakan bahwa suatu konstitusi yang inferior/ penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya skizofrenia paranoid (Maramis, 1998).

     Menurut Schebel (1991) dalam Townsend (1998) juga mengatakan bahwa skizofrenia merupakan kecacatan sejak lahir, terjadi kekacauan dari sel-sel piramidal dalam otak, dimana sel-sel otak tersusun rapi pada orang normal.

     Gangguan neurologis yang mempengaruhi sistem limbik dan ganglia basalis sering berhubungan dengan kejadian waham. Waham oleh karena gangguan neurologis yang tidak disertai dengan gangguan kecerdasan, cenderung memiliki waham yang kompleks. Sedangkan waham yang disertai dengan gangguan kecerdasan sering kali berupa waham sederhana (kaplan dan Sadock, 1997).

2)    Psikologis
     Menurut Carpenito (1998), klien dengan waham memproyeksikan perasaan dasarnya dengan mencurigai. Pada klien dengan waham kebesaran terdapat perasaan yang tidak adekuat serta tidak berharga. Pertama kali mengingkari perasaannya sendiri, kemudian memproyeksikan perasaannya kepada lingkungan dan akhirnya harus menjelaskan kepada orang lain. Apa yang seseorang pikirkan tentang suatu kejadian mempengaruhi perasaan dan perilakunya. Beberapa perubahan dalam berpikir, perasaan atau perilaku akan mengakibatkan perubahan yang lain. Dampak dari perubahan itu salah satunya adalah halusinasi,dapat muncul dalam pikiran seseorang karena secara nyata mendengar, melihat, merasa, atau mengecap fenomena itu, sesuai dengan waktu, kepercayaan yang irrasional menghasilkan ketidakpuasan yang ironis, menjadi karakter yang “Wajib” dan “Harus.

3)    Genetik
     Faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada keluarga-keluarga yang menderita skizofrenia dan terutama anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri sebesar 0,9 – 1,8%, saudara kandung 7 – 15%, anak dengan salah satu orang tua yang mengalami skizofrenia 7 – 16%, bila kedua orang tua mengalami skizofrenia 40 – 68%, kembar dua telur (heterozygot) 2-15%, kembar satu telur (monozygot) 61-86% (Maramis, 1998).

b.    Presipitasi
Faktor ini dapat bersumber dari internal maupun eksternal.

Stresor sosiokultural
Stres yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya (Stuart, 1998)

Stresor psikologis
Intensitas kecemasan yang tinggi, perasaan bersalah dan berdosa, penghukuman diri, rasa tidak mampu, fantasi yang tak terkendali, serta dambaan-dambaan atau harapan yang tidak kunjung sampai, merupakan sumber dari waham. Waham dapat berkembang jika terjadi nafsu kemurkaan yang hebat, hinaan dan sakit hati yang mendalam (Kartono, 1981).

Proses terjadinya waham
     Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham, menggunakan mekanisme pertahanan reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta. Kebutuhan akan ketergantungan ditransformasikan menjadi kemandirian yang kokoh. Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat diterima didalam dirinya sendiri. Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas, telah dihipotesiskan menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi, waham kebesaran dan superioritas. Waham juga dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan fantasi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. Waham kebesaran merupakan regresi perasaan maha kuasa dari anak-anak, dimana perasaan akan kekuatan yang tidak dapat disangkal dan dihilangkan (Kaplan dan Sadock, 1997).

     Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (1997) menggambarkan 7 situasi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan harapan, untuk mendapat terapi sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi yang meningkatkan kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah), situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain, situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu.

Gejala- gejala waham
     Jenis skizofrenia paranoid mempunyai gejala yang khas yaitu waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi (Maramis, 1998). Menurut Kaplan dan Sadock (1997), kondisi klien yang mengalami waham adalah:

a. Status mental
1)      Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat normal, kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas.
2)      Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.
3)      Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.
4)  Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal.
5)      Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya kualitas depresi ringan.
6)    Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/ menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.

b. Sensori dan kognisi
1)                  Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.
2)                  Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).
3)                  Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.
4)                  Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya. Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.

Tipe-tipe waham
a. Menurut kaplan dan sadock (1997), tipe-tipe waham antara lain:
1)                  Tipe Eritomatik: klien dicintai mati-matian oleh orang lain, biasanya orang yang sangat terkenal, seperti artis, pejabat, atau atasanya. Klien biasanya hidup terisolasi, menarik diri, hidup sendirian dan bekerja dalam pekerjaan yang sederhana.
2)             Tipe kebesaran (magalomania):yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki bakat, kemampuan, wawasan yang luar biasa, tetapi tidak dapat diketahui.
3)                  Waham cemburu, yaitu misalnya cemburu terhadap pasanganya. Tipe ini jarang ditemukan (0,2%) dari pasien psikiatrik. Onset sering mendadak, dan hilang setelah perpisahan/ kematian pasangan. Tipe ini menyebapkan penyiksaan hebat dan fisik yang bermakna terhadap pasangan, dan kemungkinan dapat membunuh pasangan, oleh karena delusinya.
4)               Waham kejar : keyakinan merasa dirinya dikejar-kejar, diikuti oleh orang lain. Tipe ini paling sering ditemukan pada gangguan jiwa. Dapat berbentuk sederhana, ataupun terperinci, dan biasanya berupa tema yang berhubungan difitnah secara kejam, diusik, dihalang-halangi, diracuni, atau dihalangi dalam mengejar tujuan jangka panjang.
5)              Waham tipe somatik atau psikosis hipokondrial monosimptomatik. Perbedaan dengan hipokondrial adalah pada derajat keyakinan yang dimiliki klien. Menetapnya waham somatik yang tidak kacau tanpa adanya gejala psikotik lainya menyatakan gangguan delosional/ waham tipe somatik.

Tahap-tahap halusinasi
     Menurut Townsend (1998) tahap dari halusinasi antara lain :
Comforting (secara umum halusinasi bersifat menyenangkan)
Karakteristik : orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas; individu mengetahui bahwa pikiran yang dialaminya tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya dapat diatasi (nonpsikotik).

Perilaku pasien yang teramati : menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara,gerakan mata yang cepat, respon verbal yang lamban, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

Condemning (secara umum halusinasi menjijikan)
Karakteristik : pengalaman sensori bersifat menjijikan dan menakutkan, orang yang berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya dan menarik diri dari orang lain (nonpsikotik).

Perilaku pasien yang teramati : peningkatan saraf otonom yang menunjukan ansietas misalnya peningkatan nadi, pernapasan dan tekanan darah, penyempitan kemampuan konsentrasi, dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realitas.

Controling (pengalaman sensori menjadi penguasa)
Karakteristik : orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasinya dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori tersebut berakhir (psikotik).

Perilaku pasien yang teramati : lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya, kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain,rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik, gejala fisik dan ansietas berat seperti berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk.

Conquering (secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan jumlah pasien yang masuk adalah delusi).

Karakteristik : pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah, halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik (psikotik).

Perilaku pasien yang teramati : perilaku menyerang atau teror seperti panik, sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain, kegiatan fisik merefleksikan isi halusinasi seperti amuk, agitasi, menarik diri, atau kataton, tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

7.    Penatalaksanaan
a.    Farmakoterapi
Tatalaksana pengobatan skizofrenia paranoid mengacu pada penatalaksanaan skizofrenia secara umum menurut Townsend (1998), Kaplan dan Sadock (1998) antara lain :
1)    Anti Psikotik
Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :
a)    Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 3×25 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.
b)    Trifluoperazine
Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik diri. Dosis awal : 3×1 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.
c)    Haloperidol
Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan mania. Dosis awal : 3×0,5 mg sampai 3 mg.

Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi gangguan waham. Pada kondisi gawat darurat, klien yang teragitasi parah, harus diberikan obat antipsikotik secara intramuskular. Sedangkan jika klien gagal berespon dengan obat pada dosis yang cukup dalam waktu 6 minggu, anti psikotik dari kelas lain harus diberikan. Penyebab kegagalan pengobatan yang paling sering adalah ketidakpatuhan klien minum obat. Kondisi ini harus diperhitungkan oleh dokter dan perawat. Sedangkan terapi yang berhasil dapat ditandai adanya suatu penyesuaian sosial, dan bukan hilangnya waham pada klien.

2)    Anti parkinson
Triheksipenydil (Artane)
Untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk menghilangkan reaksi ekstrapiramidal akibat obat. Dosis yang digunakan : 1-15 mg/hari
Difehidamin
Dosis yang diberikan : 10- 400 mg/hari
3)    Anti Depresan
Amitriptylin
Untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas, dan keluhan somatik. Dosis : 75-300 mg/hari.
Imipramin
Untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan depresi neurotik. Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75 mg/hari.
4)    Anti Ansietas
Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan somatroform, kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk meringankan sementara gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat- obat yang termasuk anti ansietas antara lain:
Fenobarbital         : 16-320 mg/hari
Meprobamat        : 200-2400 mg/hari
Klordiazepoksida    : 15-100 mg/hari

b.    Psikoterapi
Elemen penting dalam psikoterapi adalah menegakkan hubungan saling percaya. Terapi individu lebih efektif dari pada terapi kelompok. Terapis tidak boleh mendukung ataupun menentang waham, dan tidak boleh terus-menerus membicarakan tentang wahamnya. Terapis harus tepat waktu, jujur dan membuat perjanjian seteratur mungkin. Tujuan yang dikembangkan adalah hubungan yang kuat dan saling percaya dengan klien. Kepuasan yang berlebihan dapat meningkatkan kecurigaan dan permusuhan klien, karena disadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi. Terapis perlu menyatakan pada klien bahwa keasyikan dengan wahamnya akan menegangkan diri mereka sendiri dan mengganggu kehidupan konstruktif. Bila klien mulai ragu-ragu dengan wahamnya, terapis dapat meningkatkan tes realitas.

Sehingga terapis perlu bersikap empati terhadap pengalaman internal klien, dan harus mampu menampung semua ungkapan perasaan klien, misalnya dengan berkata : “Anda pasti merasa sangat lelah, mengingat apa yang anda lalui, “tanpa menyetujui setiap mis persepsi wahamnya, sehingga menghilangnya ketegangan klien. Dalam hal ini tujuannya adalah membantu klien memiliki keraguan terhadap persepsinya. Saat klien menjadi kurang kaku, perasaan kelemahan dan inferioritasnya yang menyertai depresi, dapat timbul. Pada saat klien membiarkan perasaan kelemahan memasuki terapi, suatu hubungan terapeutik positif telah ditegakkan dan aktifitas terpeutik dapat dilakukan.
c.    Terapi Keluarga
Pemberian terapi perlu menemui atau mendapatkan keluarga klien, sebagai sekutu dalam proses pengobatan. Keluarga akan memperoleh manfaat dalam membantu ahli terapi dan membantu perawatan klien.

8.    Diagnosa Medis
a.    Penentuannya mengikuti diagnosa multiaksila yang terdiri dari 5 aksis
Aksis I    : gangguan klinis
Aksis II    : gangguan kepribadian
Aksis III    : kondisi medik umum
Aksis IV    : Masalah Psikososial dan lingkungan
Aksis V    : penilaian peran dan fungsi 1 tahun terakhir
b.    Tujuan dari diagnosa multiaksila
Mencakup informasi yang komprehensif (gangguan jiwa, kondisi medik umum, masalah psikososial, dan lingkungan, taraf fungsi secara global), sehingga dapat membantu dalam
a)    Perencanaan terapi
b)    Meramalkan “Outcame” atau prognosis
Format yang mudah dan sistematik, sehingga dapat membantu dalam :
Menata dan mengkomunikasikan informasi klinis
Menangkap kompleksitas situasi klinis
Menggambarkan heterogenitas individual dengan diagnosa klinis yang sama.
Memacu penggunaan “Model Bio-Psiko-Sosial”dalam klinis, pendidikan dan penelitian (PPDGJ-III, 2002)


DAFTAR PUSTAKA
1.            Carpenito, L.J, (1998). Buku Saku Diagnosa keperawatan (terjemahan), Edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
2.            DepKes RI, (1989). Petunjuk Teknik Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Skizofrenia, Direktorat Kesehatan Jiwa, Jakarta.
3.            Keliat, B.A, (1994). Seri Keperawatan Gangguan Konsep Diri, Cetakan II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
4.            Stuart, G.W & Sundeen, S.J, (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan). Edisi 3, EGC, Jakarta
5.            Townsend, M.C, (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikitari (terjemahan), Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

kejadian dibawah ini juga bisa memicu gangguan jiwa jika terjadi dengan tiba - tiba