Pages

Rabu, 13 Desember 2017

SUPERVISI DALAM KEPERAWATAN

Supervisi adalah suatu aktivitas pengawasan yang biasa dilakukan untuk memastikan bahwa suatu proses pekerjaan dilakukan sesuai dengan yang seharusnnya. Dalam aktivitas supervisi ini pihak yang melakukan supervisi disebut supervisor. Seorang supervisor dituntut untuk dapat menguasai paling tidak dua hal penting agar proses supervisi menjadi bernilai tambah, yaitu kemampuan teknis sesuai proses pekerjaan yang ditangani dan kemampuan managemen (Simamora,2012).

Supervisi merupakan bagian yang penting dalam menejemen seta keseluruhan tanggung jawab pemimpin. Pemahaman ini juga ada dalam manajemen keperawatan. Sehingga untuk mengelola asuhan keperawatan dibutuhkan kemampuan supervisi dari seorang manajer keperawatan. Swansburg 1999 dalam Suyanto, 2009 mengatakan bahwa, supervisi adalah suatu proses kemudahan untuk penyelesaiam tugas-tugas keperawatan. Dimana supervisor merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar seta mengevaluasi secara terus menerus pada setiap perawat.

Supervisi atau pengawasan adalah proses pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut berjalan sesuai tujuan organisasi dan standar yang telah ditetapkan (Keliat Anna,2006). 

Supervisi dilaksanakan oleh orang yang memiliki kemampuan yang cakap dalam bidang yang disupervisi. Dalam struktur organisasi,supervisi biasanya dilakukan oleh atasan terhadap bawahan atau konsultan terhadap pelaksana. Dengan supervisi, kegiatan yang dilakukan diharapkan sesuai dengan tujuan organisasi, tidak menyimpang,dan menciptakan hasil seperti yang diinginkan (Keliat Anna,2006).

Supervisi dilakukan oleh perawat yang memiliki kompetensi baik dalam manajemen maupun asuhan keperawatan

Materi supervisi atau pengawasan disesuaikan dengan uraian tugas dari masing-masing staf perawat yang disupervisi. Materi supervisi untuk kepala ruangan berkaitan dengan kemampuan managerial dan kemampuan asuhan keperawatan. Ketua tim disupervisi terkait dengan kemampuan pengelolaan di timnya dan kemampuan asuhan keperawatan. Dilain pihak, perawat pelaksana disupervisi terkait dengan kemampuan asuhan keperawatan yang dilaksanakan.

Supervisi berasal dari kata super (bahasa Latin yang berarti diatas) dan videre (bahasa Latin yang berarti melihat). Bila dilihat dari asal kata aslinya, supervisi berarti “melihat dari atas”. Pengertian supervisi secara umum adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh “atasan”terhadap pekerjaan yang dilakukan “bawahan”untuk kemudian bila ditemukan masalah, segera diberikan bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya. jadi jelas bahwa supervisi itu bukan mencari - cari masalah apalagi sampai menciptakan masalah.

Supervisi tidak diartikan sebagai pemeriksaan atau mencari kesalahan,tapi lebih diartikan sebagai pengawasan partisipatif,yaitu mendahulukan penghargaan terhadap pencapaian atau hal positif yang dilakukan dan memberikan jalan keluar untuk hal yang masih belum dapat dilakukan. Dengan demikian,bawahan tidak merasakan bahwa ia sedang dinilai. Namun,ia juga dibimbing untuk melakukan pekerjaaannya dengan benar (Keliat Anna,2006).

KESIMPULAN

dalam rangka mencapai tujuan organisasi atau biasa disebut dengan VMTS maka supervisi menjadi sebuah keharusan, sehingga dalam perjalanan organisasi ketika terjadi penyimpangan, terjadi perubahan arah bisa segera diperbaiki dengan sangat cepat, supervisi yang baik cenderung seperti orang tua yang sedang mengasuh anaknya, ketika anaknya salah maka dia tidak langsung menyalahkan tetapi menanyakan mengapa bisa begitu, mengapa bisa begini, setelah mendapatkan cukup data baru kemudian memberi solusi kepada anaknya tersebut untuk menjadi lebih baik lagi dikemudian hari, manajemen adalah seni mengelola manusia, bukan sekedar mengelola system seperti robot yang kalau salah bisa diperbaiki kode programmnya dll, manusia membutuhkan sebuah pendekatan khusus sebelum memutuskan untuk melakukan segala sesuatu.

Selasa, 12 Desember 2017

KONSEP DIRI PADA USIA LANJUT

Pengertian.

Stuart dan Sundeen (1995) mengatakan bahwa konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Sedangkan menurut Beck, William dan Rawlin (1994), konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh fisikal, emosional intelektual, social, dan spiritual. Konsep diri adalah keseluruhan  pikiran dan perasaan dari individu tentang dirinya sendiri sebagai suatu obyek (Rosenberg cit. Fuller, 2000).

Stuart dan Sundeen (1995) mengkategorikan konsep diri menjadi 5 (lima) komponen, yaitu: Gambaran diri atau citra diri, ideal diri, harga diri, penampilan peran, dan identitas diri.

Gambaran diri atau citra diri 

Merupakan kumpulan dari sikap individu yang disadari atau tidak disadari oleh tubuhnya, termasuk persepsi masa lalu dan sekarang serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang berkesinambungan dimodifikasi persepsi dan pengalaman baru.

Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu  (Stuart dan Sundeen, 1995). Gambaran tubuh seseorang adalah penilaian dari individu tentang keadaan fisiknya termasuk dalam bagian tubuhnya yang sehat dan sakit, apakah dapat berfungsi secara normal (Driever cit. Mary, 1996). Gambaran tubuh berhubungan erat dengan  kepribadian, cara memandang individu terhadap dirinya yang mempunyai dampak yang sangat penting pada aspek psikologisnya, pandangan yang realistik terhadap dirinya, menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberikan rasa aman sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri bagi individu yang stabil. 

Gambaran diri, identitas dan kepribadian diri  saling ketergantungan, gambaran diri mempengaruhi perilaku karena gambaran diri tergantung   dari bagian nyata dari tubuhnya, seseorang umumnya tidak dapat beradaptasi  dengan cepat terhadap perubahan fisik dari tubuhnya.

Ideal diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar  pribadi ((Stuart dan Sundeen, 1995). Ideal diri merupakan bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang  yang diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai yang ingin dicapai. 

Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi  berdasarkan norma social (keluarga dan budaya), dan kepada siapa ia ingin lakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak-kanak yang dipengaruhi oleh orang yang penting pada dirinya yang memberikan tuntutan dan harapan. Pada usia remaja ideal diri akan dibentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Menurut Keliat (1994) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ideal diri adalah:

  1. Kecenderungan individu menetapkan ideal diri pada batas kemampuannya.
  2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri, kemudian standar ini dibandingkan dengan standar kelompok teman.
  3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk menghindari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.
  4. Semua factor di atas mempengaruhi individu dalam menetapkan ideal diri. Ideal diri merupakan hal yang paling pokok bagi seseorang dalam menetapkan konsep dan karakteristik yang diinginkannya. Ideal diri hendaknya tidak ditetapkan terlalu tinggi tetapi masih lebih tinggi dari kemampuannya agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai.


Harga diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang  dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1995). Harga diri berhubungan dengan penerimaan individu dimana ia berada (Janince, 1994). Harga diri berhubungan dengan  penerimaan individu terhadap dirinya sendiri, dan ia dihargai jika memiliki  kemampuan dan diakui oleh orang lain (Warren cit. Mary, 1996). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi, jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah.

Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar  dalam penerimaan dirinya sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai orang yang penting dan berharga. Harga diri diperoleh dari diri sendiri  dan orang lain, aspek utama adalah dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain. Harga diri akan rendah jika kehilangan rasa kasih sayang  dan penghargaan dari orang lain. Sedangkan harga diri yang rendah berhubungan dengan personal yang buruk dan terutama menonjol pada klien  yang depresi (Stuart dan Sundeen, 1995). 

Adapun manifestasi orang dengan harga diri rendah adalah kehilangan nafsu makan, atau kehilangan berat badan, makan yang berlebihan, konstipasi atau diare, gangguan tidur, tubuh tidak terawat, sulit dalam melakukan aktivitas baru, penurunan gairah seksual, perubahan perilaku, sedih dan cemas, perasaan terisolasi, takut dan mudah marah kepada orang lain, lebih suka menjadi pendengar dari pada berpartisipasi dengan orang lain, mengeluh nyeri dan pusing, perasaan tidak berharga lagi, membenci diri sendiri, merasa tidak dapat meraih kesuksesan, merasa tidak berarti, tidak mampu menyelesaikan masalah, berperilaku yang aneh, melihat orang lebih baik dari pada dirinya sendiri. (Driever cit. Mary, 1996). 

Ada empat elemen yang dapat meningkatkan harga diri seseorang  menurut Stanwyck (cit. Oliveri, 1995), yaitu:
  1. pengertian dari orang lain
  2. peran social yang diharapkan
  3. perkembangan krisi psikologi
  4. komunikasi dalam bentuk koping.

Penampilan peran

Penampilan diri merupakan serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok social. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan lain. Peran yang diterima adalah peran terpilih dan dipilih oleh individu. Peran adalah pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat (Beck. Cit. Keliat, 1994).

Setiap orang termasuk usia lanjut selalu disibukan dengan perannya  yang berhubungan dengan posisi pada setiap waktu  sepanjang kehidupan, Misalnya peran sebagai kakek-nenek, orang tua, anggota masyarakat, suami-istri  dan lain-laian. Peran-peran tersebut sangat dibutuhkan untuk mencapai aktualisasi diri seseorang. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran untuk memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri.  Adapun stressor dari peran meliputi: 

Konflik peran : Konfllik peran ini dialami jika peran yang diminta konflik dengan system individu atau dua peran yang konflik satu sama lainnya.
  1. Peran yang tidak jelas. Peran yang tidak jelas bisa terjadi jika individu diberikan peran yang tidak jelas dalam hal perilaku dan penampilan yang diharapkan.
  2. Peran yang tidak sesuai, Peran yang tidak sesuai bisa terjadi jika individu dalam proses transisi merubah nilai dan sikap  contoh orang tua yang ditunjuk sebagai tokoh masyarakat (RT atau RW) yang belum pernah dialaminya.
  3. Peran berlebihan, Peran ini bisa muncul apabila terjadi jika seseorang individu menerima peran sebagai kakek, tokoh masyarakat, orang tua, ketua organisasi social dll. Dimana peran-peran tersebut tidak bisa dijalankan  dengan baik karena kondisi fisiknya.


Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi individu dalam menyesuaikan terhadap peran, yaitu:
a. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran
b. Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan.
c. Kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang diembannya.
d. Keselerasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
e. Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidaksesuaian perilaku peran.

Identitas diri.
Identitas diri adalah kesadaran akan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai satu kesatuan yan utuh (Stuart dan Sundeen, 1995). Pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertangung jawab terhadao kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu, mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas seseorang. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.

Meier (cit. Stuart dan Sundeen, 1995) mengidentifikasi lima ciri identitas ego, yaitu:
a. Mengenal diri sendiri sebagai organisme yang utuh dan terpisah dari orang lain.
b. Mengakui jenis kelamin sendiri
c. Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan.
d. Menilai diri sendiri sesuai dengan nilai masyarakat
e. Mempunyai tujuan yang bernilai yang dapat direalisasikan.

Dalam konsep diri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa apabila individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari penguasaan lingkungan, konsep diri yang negative dapat dilihat  dari hubungan individu dan social yang maladaptive.  

Aktualiasi Diri

Aktualisasi diri adalah kemampuan individu untuk menunjukkan kepribadian yang sehat dengan gambaran diri yang baik, ideal diri yang sesuai dan realistic, harga diri yang tinggi, penampilan peran yang memuaskan dan identitas diri yang jelas. Konsep diri positif adalah kemampuan diri untuk berfungsi lebih efektif yang terlihat dari penguasaan lingkungan yang mempengaruhinya. Keracunan identitas adalah merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kanak-kanak kedalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Depersonalisasi adalah suatu perasaan yang tidak realistis dan keasingan dari diri sendiri. Hal ini berhubungan dengan tingkat kecemasan atau panic dan kegagalan dalam pengujian realitas. Individu mengalami kesulitan untuk membedakan diri sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri terasa tidak nyata dan asing bagi dirinya.
Menurut Yani (1998) bahwa konsep diri dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:

Predisposisi
Berbagai factor penunjang terjadinya perubahan konsep diri seseorang . Faktor ini dapat dibagi sebagai berikut:
  1. Faktor yang mempengaruhi harga diri yang meliputi: penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis kegagalan yangnberulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistic.
  2. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran  adalah stereotipik peran seks, tuntutan peran kerja dan harapan peran cultural.
  3. Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dari struktur social.


Faktor presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh situasi yang dihadapi individu dan individu tidak mampu menyesuaikan. Situasi atau stressor dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya.

Stressor yang mempengaruhi gambaran diri  adalah: 
  1. hilangnya bagian tubuh
  2. tindakan operasi
  3. proses patologi penyakit
  4. perubahan struktur dan fungsi tubuh
  5. proses tumbuh kembang
  6. prosedur tindakan dan pengobatan.

Stressor yan mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah; 
  1. penolakan dan kurang pengaharagaan diri dari orang tua  dan orang yang berarti
  2. pola asuh anak yan tidak tepat
  3. persaingan antar saudara
  4. kesalahan dan kegagalan yang terulang
  5. cita-cita yang tidak tercapai
  6. gagal bertanggung jawab terhadap dirinya.

Sepanjang kehidupan seseorang sering mengalami transisi peran. Keliat (1994) mengidentifikasi  tiga kategori transisi peran, yaitu:
  1. Transisi perkembangan, Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan harus dilalui individu dengan meyelesaikan tugas yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stressor bagi konsep diri.
  2. Transisi situasi, Transisi situasi terjadi sepanjan daur kehidupan seperti kelahiran dan kematian, dari sendiri kemudian menjadi berdua dengan pasangannya, atau ditinggal mati pasangannya. Perubahan-perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran, peran yang tidak jelas atau yang berlebihan.
  3. Transisi sehat-sakit, Stressor pada tubuh dapat meyebabkan gangguan gmbaran diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri, yaitu gambaran diri, ideal diri, identitas diri, penampilan peran, dan harga diri.

Masalah konsep diri dapat dicetuskan oleh factor psikologis, sosiologis atau fisiologis, namun yang lebih penting persepsi individu terhadap ancaman.

Sumber buku.
  1. Yani AS. 1998. Buku saku: Keperawatan jiwa. Edisi 3. EGC. Jakarta
  2. Keliat. AB. 1994. Gangguan konsep diri. GC. Jakarta.
  3. Rawlin, William, and Beck. 1993. Mental health psychiatric nursing a holistic life cycle approach. Third Edition. Mosby USA
  4. Stuart and Sundeen S.J. 1995. Principles and practice of phychiatric nursing. Sixth edition. St. Louis Mosby Year Book.


MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN : KRITERIA ASUHAN KEPERAWATAN

MINIMAL CARE 


  1. Mengobservasi keadaan umum dan tanda vital pasien tiap shift
  2. Mengobservasi aktivitas sehari-hari (ADL) pasien
  3. Memberikan penyuluhan kesehatan sesuai masalah pasien. 
  4. Mengobservasi ambulasi pasien. 
  5. Memberikan obat oral sesuai program. 
  6. Tindakan keperawatan mandiri lain dalam pengelolaan pasien   dengan minimal care.
  7. Memberikan perawatan selama 3 – 4 jam/hari.


INTERMEDIATE CARE 


  1. Mengobservasi keadaan umum, tingkat kesadaran,  tanda vital tiap 4 jam.
  2. Memberikan sedikit bantuan pada pasien dalam melakukan  aktivitas sehari-hari.
  3. Memberikan sedikit bantuan pada pasien dalam melakukan  pergerakan/ambulasi.
  4. Melakukan perawatan dan monitoring infus/DC/NGT/Oksigen
  5. Memberikan obat oral sesuai program (lebih dari sekali per hari)
  6. Memberikan penyuluhan kesehatan (health education) sesuai  situasi dan kondisi pasien.
  7. Tindakan keperawatan mandiri lain dalam pengelolaan pasien dengan      intermediatecare. 
  8. Memberikan perawatan selama 5  6  jam/hari.



MODIFIED INTENSIVE CARE / TOTAL CARE


  1. Mengobservasi keadaan umum, tingkat kesadaran,  tanda vital tiap 2 – 4 jam 
  2. Membantu sebagian besar aktivitas sehari-hari pasien.
  3. Melakukan perawatan dan monitoring infus/NGT/DC/Oksigen 
  4. Mengobservasi intake output.
  5. Memberikan obat oral sesuai program.
  6. Menyiapkan pasien yang akan dilakukan prosedur operasi/  pemeriksaan penunjang(psikologis, mempuasakan pasien,   menyiapkan obat/alat/hasil
  7. laboratorium/rontgen, menyiapkan   blangko informed consent) 
  8. Memberikan penyuluhan kesehatan sesuai situasi dan  kondisi pasien.
  9. Monitoring laboratorium kontinyu tiap = 8 jam.
  10. Tindakan keperawatan mandiri lain dalam pengelolaan pasien  dengan modified Intensive Care 
  11. Memberikan perawatan selama 7 - 8 jam/hari.



INTENSIVE CARE : 


  1. Melakukan pengkajian 
  2. Melakukan diagnosa keperawatan 
  3. Merencanakan tindakan keperawatan
  4. Melakukan tindakan keperawatan:
  5. Memonitor keadaan umum, tingkat kesadaran, hemodinamik,  tanda vital tiap 1 – 2 jam. 
  6. Memberikan perawatan dan monitoring infus/NGT/DC/CVP.
  7. Mengobservasi intake output. 
  8. Membantu segala aktivitas (ADL) pasien (membantu makan/  minum pasien per NGT,  kebersihan diri, buang air besar/  buang air kecil) 
  9. Mengatur posisi pasien. 
  10. Memonitor pasien dengan EKG monitor dan atau pernafasan  pasien dengan ventilator. 
  11. Melakukan penghisapan lendir (suctioning). 
  12. Melakukan bronchial washing. 
  13. Memberikan penyuluhan kesehatan sesuai situasi dan  kondisi pasien. 
  14. Tindakan keperawatan mandiri lain dalam pengelolaan pasien  intensive care. 
  15. Memberikan perawatan selama 10 - 14 jam/hari.


PROSEDUR MEMANDIKAN PASIEN DI TEMPAT TIDUR

Pengertian

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu mandi secara sendiri                  dengan cara memandikan di tempat tidur.

Tujuan
  1. Menjaga kebersihan tubuh,
  2. Mengurangi infeksi akibat kulit kotor, 
  3. Memperlancar sistem peredaran darah
  4. Menambah kenyamanan pasien.


Alat dan bahan
  1. Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan air hangat
  2. Pakaian pengganti
  3. Kain penutup
  4. Handuk besar
  5. Handuk kecil untuk mengeringkan badan
  6. Sarung tangan pengusap/waslap
  7. Tempat untuk pakain kotor
  8. Sampiran
  9. Sabun.


Prosedur kerja
  1. Jelaskan prosedur pada pasien
  2. Cuci tangan
  3. Atur posis pasien
  4. Lakukan tindakan memandikan pasien yang diawali dengan membentangkan handuk di bawah   kepala, kemdian bersihkan muka, telinga, dan leher degan sarung tangan pengusap. Keringkan   dengan handuk.
  5. Kain penutup diturukan, kedua tangan  pasien diangkat dan pindahkan handuk di atas dada pasien, lalu bentangkan. Kemudian kembalikan kdua tangan ke posisi awal diats handuk, lalu basahi kedua tangan dengan air bersih. Keringkan dengan handuk.
  6. Kedua tangan diangkat, handuk dipindahkan di  sisi pasien, bersihkan daerah dada dan perut, lalu keringkan dengan handuk
  7. Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan kebawah punggung sampai glutea dan basahi punggung h inga glutea, lalu keringkan degan handuk. Selanjutnya miringkan pasien  ke kanan dan laukan hal yang sama. Kemudian kembalikan pasien pada posisi terlentang dan pasangkan pakaian dengan rapi.
  8. Letakkan handuk di bawah lutut lalu bersihkan kaki. Kaki yang paling jauh didahulukan dan keringkan dengan handuk..
  9. Ambil handuk dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah perut dibuka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan genitalia. Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan rapi.
  10. Cuci tangan.


 (Sumber; Azis Alimul Hidayat, S.Kp; Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia)



Rabu, 29 November 2017

TERTAWA DAN SEDIH SECUKUPNYA


     Setiap kali mendengar kata secukupnya terkesan kayak kurang mewah, kurang elegan, kurang mentereng, akan tetapi pada kenyataannya kalimat secukupnya menandakan agar tidak terlalu berlebihan, mengapa tertawa tidak boleh terlalu berlebihan dan sedih juga tidak boleh terlalu berlebihan? Apa yang salah dengan itu? Jika kita tertawa secara berlebihan maka yang terjadi adalah matinya hati dan perasaan kita, bisa jadi kepekaan kita pada lingkungan sekitar menjadi kurang peka, ibarat mengasah indra keenam akan gagal. Tertawa yang berlebihan sebenarnya justru tidak menyehatkan, karena endorphin bisa terlepas dalam kondisi kita santai dan rileks. Kondisi ini tercipta ketika kita bisa menyelaraskan diri dengan alam maupun dengan lingkungan eksternal.

     Memang masalah jika seseorang hatinya mati, tidak peka, tidak memiliki rasa empati? Tentu saja orang disekelilingnya akan memberikan makna yang sama kepada yang bersangkutan, jika dia tidak peka kepada orang lain maka orang lainpun tidak akan peka kepada dia, ketika dia berusaha serius orang akan tetap menganggapnya bercanda, begitu pula orang yang terbiasa serius sekali bercanda tetap dianggap serius. Inilah pentingnya menjaga dan mengatur irama kapan harus bercanda dan kapan harus serius.

     Lalu mengapa sedih tidak boleh berlebihan? Jika sedihnya berlebihan maka cenderung bunuh diri, masih mending jika tidak menjadi psikopat, banyak fakta mengatakan bahwa psychotraumatic menjadi salah satu alasan seseorang menjadi psikopat. Perlunya memanaje hati dan perasaan akan menghindarkan kita dari berbagai bahaya negatif hati. Jika anda merasa sedih maka segera pulihkan perasaan sedih tersebut dengan aktifitas – aktivitas yang diharapkan akan membuat luka tersebut segera pulih.


     Mengelola perasaan hampir sama dengan mengelola bisnis, dibutuhkan ketepatan dalam mengelola perasaan agar tidak terlalu sedih juga tidak terlalu gembira. Semoga anda berhasil mengelola semua perasaan tersebut sehingga anda mampu segera pulih ketika sedih dan segera peka ketika anda habis tertawa, jangan sampai segala sesuatu itu berlebihan.

Senin, 27 November 2017

BERCANDA YANG KELEWATAN

     Ada seorang teman yang hobby banget bercanda lewat grup wa, bercandanya terkadang melewati batas karena menggunakan panggilan - panggilan mesra sehingga teman - teman satu grup akhirnya memilih untuk tidak berkomentar. Candaan - candaan itu sebenarnya bertujuan untuk menjalin keakraban tetapi seorang laki - laki yang dirayu oleh laki - laki tentu akan menimbulkan kesan berbeda. Candaan yang melewati batas ini yang sering membuat anggota grup wa tiba - tiba left dan meninggalkan grup. Bahkan tanpa meninggalkan pesan apapun langsung left begitu saja.

    Mengelola grup wa memang tidak harus seserius mengelola bisnis, tapi jika bercandanya melewati batas pasti akan membuat orang lain tidak nyaman. Kenyamanan dalam sebuah interaksi itu penting, sangat penting malah, apa jadinya jika sebuah grup yang dibangun dengan susah payah, mengumpulkan anggota dengan pelan - pelan harus bubar karena satu dua orang yang tidak paham etika komunikasi.

   Masak sich bercanda harus menggunakan etika? mengapa? etika akan mengatur batas kebebasan seseorang, bahwa kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jadi dalam bertutur kata, bersikap tidak bisa seenaknya sendiri, tidak bisa suka - suka gue. Bersosmed sekalipun harus menggunakan kaidah dan aturan yang baik sehingga semua anggota grup merasa nyaman. Mengapa harus memperhatikan kenyamanan? apa pentingnya? bercanda itu sesuatu yang menyenangkan tetapi ketika candaan mulai melewati batas tentu akan menggangu kenyamanan orang lain.

   Jangan suka membesarkan ego teman, karena interaksi akan menjadi hidup tanpa harus bercanda yang melewati batas, bercandalah yang standar saja, tapi jika tidak ada yang gila - gilaan grupnya akan sepi? membuat ramai sebuah grup tidak harus dengan mengganggu kenyamanan orang lain apalagi sampai berdebat di dunia maya, lebih baik bertemu dan ungkapkan semua secara baik - baik. Gunakan komunikasi yang baik dan santun, hargai perbedaan, jangan suka merasa menang sendiri. Karena grup adalah milik bersama yang harus saling jaga, saling rawat, saling asuh.

   Berarti tidak boleh bercanda? sangat boleh bahkan wajib tapi tanpa harus meruntuhkan harga diri dan wibawa orang lain, bercandalah dengan takaran kalau tidak mau dikasari ya jangan mengasari orang, ibarat bumerang semua yang kita lepas akan kembali ke kita juga. 

Rabu, 27 September 2017

tutorial searching jurnal internasional terindek DOAJ

     Pasti anda sering mengalami kesulitan atau hambatan ketika mencari jurnal terindek DOAJ atau bahkan SCOPUS. Mengapa mencari jurnal saat ini menjadi penting? karena dengan membaca jurnal - jurnal yang terindek DOAJ atau SCOPUS maka pemahaman kita terhadap trend - trend terbaru akan meningkat. artikel - artikel yang masuk ke jurnal internasional ini selain bagus secara metodologis juga bagus secara hasil, bahkan cenderung menjawab persoalan - persoalan terbaru.

    Akses jurnal menjadi sebuah keharusan jika anda berharap mendapatkan pengetahuan - pengetahuan terbaru, Bagaimana cara mencari artikel dari jurnal terindek akan dijabarkan dalam video dibawah ini.

Kamis, 14 September 2017

LOGOTERAPI

Menurut Frankl (2004) logoterapi berasal dari kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti makna. Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut. Logoterapi berusaha membuat pasien menyadari secara tanggungjawab dirinya dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, atau kepada siapa dia merasa bertanggungjawab. Logoterapi tidak menggurui  atau berkotbah melainkan pasien sendiri yang harus memutuskan apakah tugas hidupnya bertanggung jawab terhadap masyarakat, atau terhadap hati nuraninya sendiri.

Menurut Frankl (dalam Trimardhany, 2003) logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:

a.       Kebebasan berkehendak ( Freedom of Will )
Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap ( freedom to take a stand ) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak ( to detach ) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri ( self detachment ). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “ the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

b.      Kehendak Hidup Bermakna ( The Will to Meaning )
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi ( Koeswara, 1992 ) bahwa kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik ( to pull ) dan menawari  ( to offer ) bukannya mendorong ( to push ). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan  berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.

c.       Makna Hidup ( The Meaning Of  Life )

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar  dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang ( Bastaman, 1996 ). Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa  berbeda  antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya ( Frankl, 2004)

MAKNA HIDUP

Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting dan berharga, serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga. ( Bastaman, 1996).  Pengertian mengenai makna hidup menunjukan bahwa didalamnya terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi. Makna hidup ini benar-benar terdapat dalam kehidupan itu sendiri, walaupun dalam kenyataannya tidak mudah ditemukan, karena sering tersirat dan tersembunyi di dalamnya. Bila makna hidup ini berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan bermakana dan berharga yang pada giliranya akan menimbulkan perasaan bahagia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebahagiaan adalah ganjaran atau akibat samping dari keberhasilan seseorang memenuhi makna hidup.

Menurut pandangan Frankl ( 1970 ) makna hidup harus dilihat sebagai suatu yang sangat objektif karena berkaitan dengan hubungan individu dengan pengalamannya dalam dunia ini, meskipun makna hidup itu sendiri sebenarnya suatu yang objektif, artinya benar-benar ada dan dialami dalam kehidupan.

Frankl ( 1985 ) menyebutkan bahwa makna hidup sebagai sesuatu hal yang bersifat personal, dan bisa berubah seiring berjalanya waktu maupun perubahan situasi dalam kehidupannya. Individu seolah-olah ditanya apa makna hidupnya pada setiap waktu maupun situasi dan kemudian harus mempertanggungjawabkan. Menurut Yalom ( dalam Bastaman, 1996 ) pengertian makna hidup sama artinya dengan tujuan hidup yaitu segala sesuatu yang ingin dicapai dan dipenuhi.


Berdasarkan uraian dia atas maka dapat disimpulkan bahwa makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan hidup.