Pages

Friday, October 17, 2014

Mengorbankan ego

Setiap membaca sebuah berita si A terpaksa harus mengorbankan egonya, si B selalu memperturutkan ego nya. Si C entah apalagi yang dilakukan, ego bukan kambing yang bisa dikorbankan, ego bukan benda yang bisa diletakkan dimana saja, ego adalah perasaan, ego adalah sarana manusia bertahan. Tanpa ego manusia hanya bisa menuruti id atau super ego, tanpa ego orang hanya makan untuk kenyang, berpakaian dari karung goni, tidur didipan kayu, kemana-mana jalan kaki dan tetap bahagia. Ego adalah melihat diri dan membuat nilai diri agar sama atau lebih tinggi dari orang lain.

Tanpa ego tidak ada perang, adu mulut, konflik, cekcok dll. Ego adalah penyeimbang antara nafsu binatang dan kebajikan malaikat/angel. Ego tidak bisa dikorbankan, dia hanya bisa diproporsi agar menyeimbangkan id dan superego, tidak akan lahir sengkuni, bisma, kurawa dan pandawa kalo tidak ada ego, tanpa ego tidak ada sliding tackle, menggunting dalam lipatan, menusuk dari belakang, musuh dalam selimut, srigala berbulu domba dll. Ego adalah timbangan yang akan mengukur sisi mana yang harus ditambah, sisi mana yang harus dikurangi.

Ego tidak perlu dikorbankan, ego hanya perlu distabilkan, dikendalikan, dikelola, dikontrol. Ego bukan binatang buas yang tak bertuan, ego adalah sumber persaingan, persaingan sumber kreativitas. Tanpa ego manusia mirip robot, tidak pernah berbuat jahat tidak pula berbuat baik, datar, tumpul, tanpa ekspresi, tidak ada stress dll.

Ego adalah alat yang membuat kita masih bertahan sampai hari ini, tanpa ego hidup seperti melihat tivi hitam putih, boring dan membosankan.

1 comment :

Jika anda merasa tersesat di blog ini, mohon beri komentar sebagai perbaikan kualitas postingan.