Pages

Sunday, November 8, 2009

GANGGUAN JIWA & EGOMECHANISME DEFENCE

Penyakit jiwa identik dengan gila. Pola pikir bahwa penyakit jiwa selalu berarti gila adalah mindset yang keliru yang terlanjur turun menurun di masyarakat. Masyarakat acapkali memandang sebelah mata kepada dokter spesialis jiwa karena menurut mereka dokter spesialis jiwa pekerjaanya tidak seperti dokter kebanyakan. Yang termasuk penyakit jiwa sangat banyak, menurut buku pegangan untuk diagnosa bagi dokter spesialis jiwa Indonesia yaitu Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), penyakit jiwa dibagi dalam 10 kelompok besar yang masing-masing kelompok terdiri atas begitu banyak jenis gangguan jiwa.

Beberapa penyakit berikut termasuk dalam penyakit jiwa jiwa : dementia , skizofrenia dan variannya, depresi, manik, narkoba dan alkoholisme, kecemasan, anorexia nervosa – bulimia, autisme, gangguan kepribadian, penyimpangan seksual dll. Ilmu kejiwaan itu meliputi hal-hal yang umum di masyarakat seperti permasalahan bunuh diri, hobi melakukan tindak kriminal, masalah stress berat karena ditinggal pacar atau karena kematian orang disayang, permasalahan anak yang hiperaktif dan tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, homoseksual, hobi mengintip pakaian dalam wanita atau menunjukkan aurat di depan umum, kecenderungan wanita yang sering memuntahkan makanan yang dimakannya, cuci otak kaum teroris, kekerasan dalam rumah tangga dan masih banyak lagi.

Ilmu kejiwaan mempelajari banyak fenomena sosial dan cara-cara penangannya baik dengan terapi obat-obatan maupun konseling. Konsep penyebab gangguan jiwa yang popular adalah kombinasi bio-psiko-sosial. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan fungsi komunikasi sel-sel saraf di otak, dapat berupa kekurangan maupun kelebihan neurotransmitter atau substansi tertentu. Pada sebagian kasus gangguan jiwa terdapat kerusakan organik yang nyata padas struktur otak misalnya pada demensia. Jadi tidak benar bila dikatakan semua orang yang menderita gangguan jiwa berarti ada sesuatu yang rusak di otaknya. Pada kebanyakan kasus malah faktor perkembangang psikologis dan social memegang peranan yang lebih krusial. Misalnya mereka yang gemar melakukan tindak criminal dan membunuh ternyata setelah diselidiki disebabkan karena masa perkembangan mereka sejak kecil sudah dihiasi kekerasan dalam rumah tangga yang ditunjukkan oleh bapaknya yang berprofesi dalam militer. Jadi ilmu jiwa justru merupakan satu-satunya ilmu yang mengenali penyakit medis secara komplet, yaitu dari segi fisik, pola hidup dan juga riwayat perkembangan psikologis atau kejiwaan seseorang. Oleh karena itu pengobatan ilmu kejiwaan juga bersifat menyeluruh, tidak sekedar obat minum saja, tetapi meliputi terapi psikologis, terapi perilaku dan terapi kognitif/konsep berpikir.

Setiap individu hendaknya mengetahui konsep-konsep tentang gangguan jiwa dan pencegahannya. Mungkin saat ini cukup banyak masyarakat awam yang rajin membaca rubrik kesehatan baik lewat tabloid maupun internet, tapi sayangnya permasalahan gangguan jiwa kurang popular jika dibandingkan masalah osteoporosis, hipertensi, penyakit jantung, stroke, makanan sehat maupun kesehatan kulit. Padahal yang perlu diketahui, gangguan jiwa dapat mengenai siapa saja. Apalagi di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi stressor seperti sekarang ini. Tahukah Anda bahwa profesi yang paling banyak melakukan bunuh diri di USA itu justru dokter spesialis kejiwaan?

Konsep yang perlu Anda pahami adalah ada 3 mekanisme pertahanan utama jiwa kita untuk menolak terjadinya gangguan jiwa di tengah terpaan badai kehidupan. Ketiga benteng jiwa yang sehat itu adalah personality yang tangguh, persepsi yang positif (positif thinking) dan kemampuan adaptasi. Kepribadian yang tangguh adalah hasil pembelajaran selama proses perkembangan sejak kecil, dan tentunya hal ini didapatkan dengan banyaknya asupan nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga dan disekolah serta didapatkan dari banyaknya pengalaman langsung. Nilai-nilai hanya dapat berfungsi jika diterapkan langsung dalam keadaan nyata yaitu dengan banyak bergaul baik dengan lingkungan benar maupun salah. Apabila kita berani SAY YES di lingkungan yang benar dan SAY NO saat di lingkungan salah, lama kelamaan kepribadian kita akan tangguh. Mengurung anak dengan tujuan menghindarinya dari perkenalan dengan narkoba tidak menjamin bahwa kemudian ia tidak terjebak narkoba, yang benar adalah menanamkan nilai-nilai yang tangguh kepada si anak serta membiarkannya mengenal narkoba. Kepribadiannya yang tangguh itu sendiri yang akan membuatnya berani menolak narkoba seumur hidupnya.

Persepsi juga perlu sebagai benteng kejiwaan. Seseorang yang selalu memandang peristiwa yang menimpanya dengan positif dan memandang hari depannya dengan optimis maka ia memiliki jiwa yang sehat. Persepsi positif diperlukan terutama menghadapi kegagalan-demi kegagalan dalam hidup sehingga tidak membuat diri menjadi frustasi berlebih maupun menyalahi diri sendiri bahkan bunuh diri.

Dan yang tidak kalah penting adalah kemampuan adaptasi karena segala sesuatu dalam hidup ini potensial untuk berubah. Hari ini bisa hidup mapan, tapi hari esok siapa tahu. Hari ini bisa bertemu kelompok orang yang asyik, hari esok siapa yang dapat menjanjikan. Adaptasi akan membuat jiwa kita meliuk-liuk dalam kehidupan seperti air yang mengalir. Dengan demikian kita dapat selalu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Setiap menghadapi bencana maka kita dapat mengubah pemikiran dari “mengapa semua ini harus kualami” menjadi “ setelah semua ini menimpaku, aku harus melakukan apa?”. Dengan demikian kita akan dapat bangkit dan semakin maju setiap kali terjatuh. Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Artinya, jadilah seseorang yang flexible dengan keadaan yang ada, NOW and HERE.


Dimodifikasi dari Sumber : http:// www.wikimu.com

No comments :

Post a Comment

Jika anda merasa tersesat di blog ini, mohon beri komentar sebagai perbaikan kualitas postingan.